Postingan

GA BISA MASAK?

Perempuan ngga suka narasi "perempuan harus bisa masak" , bukan karena mereka pemalas. Tapi karna mereka nggak ingin dinilai pantas dinikahi/ enggak dari hal-hal yang bukan prioritas (alias bisa diganti dengan gofood) Kalau kamu ngga punya uang, tenang. Bukan berarti mereka akan menghabiskan uangmu untuk order makanan setiap hari. Tanpa perlu dijadikan kewajiban (seperti; istri/ calon ibu yang baik harus bisa masak) perempuan dengan sendirinya akan belajar keterampilan dapur. Bukan karena mereka tidak baik saat tidak menguasainya, tetapi karena mereka sadar bahwa seseorang perlu mengambil peran tersebut. Meski begitu, sampan akan terasa berat jika di dayung sendirian.  Saat perempuan mengambil perannya di dapur, maka biarlah ia membuat keputusan dari alasannya, bukan dari kewajiban yang dibuat oleh budaya umum.  Kalau nanti aku mengambil peran di dapur, maka tidak lain ku lakukan agar keluarga ku bisa merindukan masakan ku setiap mereka pergi jauh. Bukan karena aku tidak baik...

MASA DEPAN

Butuh lebih dari sekedar kata cinta untuk meyakinkan hati seorang perempuan. Ya, memberikan kepastian masa depan, aku rasa tidak semua laki-laki berani menjanjikan. Memasuki umur yang ke-21 tepat pada 2 minggu yang lalu, aku mulai sering mengunjungi toko perabot rumah tangga dan depo bangunan. Aku mulai tau harga dan nilai, dari satu buah sendok hingga sebongkah batu bata. Bagiku, cinta bukan lagi soal foto selfie mesra dan hadiah-hadiah mewah belaka. Tapi tentang mempersiapkan kehidupan bersama, dimana kita akan tinggal dan membina keluarga. Betapa hubungan yang lama tidak menjamin akan sampai ke pelaminan, Tuhan punya rencanaNya sendiri untuk mempertemukan. Dengan siapapun nanti aku dipertemukan, semoga kita punya banyak sabar dan saling mendoakan.

Tepat Satu Tahun Lalu

Ini malam yang panjang, aku masih enggan menuliskan puisi, aku lebih suka berceritakan kamu. Wahai kamu yang hadirnya pernah begitu mewarnai, aku ingin bercerita sebentar, tentang kamu, tentang hati, tentang ketiadaan yang menyesakkan. Sepertinya aku terlalu malas berlari, sampai-sampai aku masih berada pada perasaan ini, perasaan yang menggebu sejak satu tahun yang lalu. Aku pernah menang untuk mendapati kamu, bahkan aku pernah kalah sekalipun seluruh aku menahanmu. Kata seorang teman, kita hanya gengsi, gengsi untuk membacakan seluruh rasa yang memang belum pernah aku bacakan. Semoga saat sejauh hari ini kamu bisa mengingat rinduku, bahwa kita pernah sedekat itu.

Untuk seseorang yang belum ku ketahui

Siang ini tempatku sedang mendung. Mungkin tinggal menunggu hitungan menit bagi hujan untuk sampai di sini. Saat kamu memiliki waktu luang sepertiku saat ini, kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu? Apakah pekerjaan membuatmu lelah? Jika ya, berhentilah sejenak sebelum melanjutkan. Sekarang aku memang belum bisa menepuk pundakmu atau mengirimkan selalu pesan singkat untuk menghiburmu, namun yakinlah suatu hari jarak ini bisa saja terhapus. Jika waktumu sedang luang, coba bayangkan pertemuan kita kelak. Bagiku, membayangkannya saja sudah bisa membuat hatiku berdegup kencang. Sesekali aku seperti melihatmu dalam diri orang yang kutemui di jalan. Ada kalanya aku ingin bertanya pada mereka: kamukah itu? Tapi nyaliku tak cukup besar untuk melakukannya. Selagi kita belum bertemu, berbahagialah dengan cara kita sendiri-sendiri. Aku bertanya-tanya mengapa kisah kita tak semudah kisah di layar kaca. Mengapa kita tak dibuat mudah saja bertemu di sebuah t...

Andai Perempuan itu adalah Aku

Kamu lebih suka kutulisi apa? Puisi atau prosa? Dengan jujur atau dusta? Bagiku keduanya sama saja Sama-sama sulit untukku merangkai kata Tak seperti biasa Ketika aku mengolah diksi dengan lancarnya --- Andai perempuan itu adalah aku Mungkin kau sudah membukakan pintu Maka hatiku tak harus pilu Menebak-nebak apa isi kepalamu Andai perempuan itu adalah aku Maka aku tak perlu banyak-banyak rindu Berharap berpapasan denganmu di depan pintu --- Tapi, aku takut bilang suka! Nanti malah kau tanyai apa parameternya Lagipula untuk apa Kita juga tak akan bersama, bukan?

Aku dan Ponselnya

Aku yakin ia memegang ponselnya seharian. Meskipun katanya sangat sibuk hingga tak sempat makan. Aku yakin setiap ada chat masuk, ponsel miliknya akan berbunyi. Meskipun katanya notifikasi pesan miliknya tidak berfungsi. Aku yakin ia sadar ketika pop-up bertuliskan namaku muncul di atas. Meskipun katanya pesanku tertimbun oleh grup dan broadcast OA tidak jelas. Aku takkan salahkan dia yang beralasan. Bukankah memang itu resikonya ketika kita menaruh harapan? Harapan pada seseorang yang membuat kita membalas pesannya dengan cepat, namun ia hanya membacanya kalau sempat.

Untuk Lelaki Usia 20an

Untukmu laki-laki di usia 20an, biarkan sedikit aku jabarkan tentang bagaimana di masa ini kamu harus banyak merelakan seperti membanting keinginan dengan kebutuhan Membuang sedikit perjalanan demi menabung masa depan Salah besar jika banyak dari kalian mengatakan "banyakin jalan kurangin beban" padahal pasca usia 20an akan ada yang lebih berat dari sekedar beban yaitu, pertanggung jawaban bersama pasangan. Untukmu wahai lelaki usia 20an... Pendampingmu kelak butuh penghargaan, bukan soal mapan tapi keberhasilan dari arti perjuangan Tak perlu berjanji, apalagi jika hidupmu bukan dari saku pribadi. Tapi mulailah benahi diri dengan pisahkan antara kebutuhan dan keinginan.