Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Untuk Lelaki Usia 20an

Untukmu laki-laki di usia 20an, biarkan sedikit aku jabarkan tentang bagaimana di masa ini kamu harus banyak merelakan seperti membanting keinginan dengan kebutuhan Membuang sedikit perjalanan demi menabung masa depan Salah besar jika banyak dari kalian mengatakan "banyakin jalan kurangin beban" padahal pasca usia 20an akan ada yang lebih berat dari sekedar beban yaitu, pertanggung jawaban bersama pasangan. Untukmu wahai lelaki usia 20an... Pendampingmu kelak butuh penghargaan, bukan soal mapan tapi keberhasilan dari arti perjuangan Tak perlu berjanji, apalagi jika hidupmu bukan dari saku pribadi. Tapi mulailah benahi diri dengan pisahkan antara kebutuhan dan keinginan.

Bising dalam Lamunan

Siang ini aku duduk di samping jendela besar milik sebuah restoran di tengah kota, membelakangi meja-meja yang hangat penuh canda tawa. Jendela besar ini mempertontonkan hujan yang tak begitu deras, Aku tenggelam dalam lamunan. Gelak tawa meja sebelah terdengar lantang, namun tak mengusik lamunanku yang kian tinggi ke awang-awang. Lamunan kali ini memikirkan betapa malangnya setiap orang yang berlalu-lalang di hadapanku; tanpa berkaca seberapa malangnya diriku sendiri. Berapa dari mereka yang tertawa dalam keterpurukan? Berapa dari mereka yang selalu ada padahal seringkali kehilangan? Berapa dari mereka yang  paling mampu menguatkan padahal keberatan memanggul beban? Manusia memang tak pernah bisa terus terang, bahkan pada dirinya sendiri kecuali malam datang menyergap dengan pedihnya kesepian.

HAI AKU!

Satu dari sekian banyak yang terjadi, Mungkin aku hanya seorang remaja beranjak dewasa Baik dalam mengenal cinta Maupun dalam mendalami rasa. Maka disanalah aku berada Mengeluarkan segala emosi lewat cerita. Satu dari sekian banyak tawa, Mungkin aku memang sudah jadi dewasa Lekuk tubuh, nada bicara, bahkan suara. Hai aku, Terimakasih telah memilih raga ini Yang tidak selalu benar malah banyak salahnya. Maaf aku, sering buat dirimu bingung Tak jarang juga membuatmu takut Layaknya balita yang baru bisa berjalan Kadang kubuat dirimu jatuh. Tapi, terimakasih untuk tetap bangkit Terimakasih telah menangis dan tak lupa mengusapnya. Sekarang aku telah sadar, Tertampar kenyataan kalau usia selalu menuntut untuk dewasa, bahkan sebelum aku menginginkannya. Memang terasa sulit, Tapi aku yakin semua akan baik-baik saja Seperti katamu disetiap masa sulit yang kuhadapi. Meski terlalu banyak kurangnya Bertahanlah sedikit lagi Sebentar lagi Tetaplah jadi aku, ya?

TIDAK CINTA KAMU

Saya tidak tahu persis bagaimana cara mendefinisikan penyebab badai dan petir yang menyambar di dalam kepala saya ini. Namun yang jelas, jika kamu meminta saya untuk sekedar menemani membeli teh kotak di Indomaret terdekat, saya akan membatalkan semua rapat yang mungkin ada pada menit yang sama. Dan saya akan berkata bahwa dosen saya tidak datang, ketika kamu mengajak saya untuk melihat buku-buku tua di pinggiran kota. Jika kelak kamu mengharapkan saya berada di dalam kursi penonton untuk mendukungmu menggiring bola, dengan senang hati saya akan datang ke seluruh pertandingan yang akan kamu lalui, sambil membawakan minuman kesukaanmu. Dan saya akan berkata tidak mengantuk, sekalipun saya belum tidur karena kelelahan menulis laporan, pada saat kamu meminta saya untuk tetap terjaga dan mendengarkanmu bercerita. Walau pada akhirnya saya sering tertidur diam-diam. Saya hanya benar-benar tidak ingin kehilangan kamu. Bukan, ini bukan kisah roman picisan tentang dua insan yang sedang ber...

Sore di Bulan Oktober

Aku harap suatu saat nanti, entah esok, lusa, atau 3 tahun dari hari ini kamu menyempatkan diri untuk membaca ini. Aku memahami arti kata tenang saat tak sengaja kulihat matamu pada sore di akhir bulan Oktober itu. Saat kamu dengan angkuhnya berjalan, dengan kaos hitam dan genggaman ponselmu. Mungkin kamu tak pernah menyadari kebahagiaanku ketika aku bisa berada dekat denganmu dalam jarak kurang dari lima puluh sentimeter selama kurang lebih hanya 5 jam, mengaggumimu dalam keheningan. Meskipun setelah itu kita akan kembali pada dunia kita masing-masing, dan bersikap seperti orang asing. Ketahuilah aku sangat bersyukur atas kesempatan itu. Bahkan sejak 1 jam pertama saja, aku sudah benar-benar suka padamu setengah mati. Segala sesuatu tentangmu menjadi sangat menakjubkan. Kesukaanmu pada film dan ketenanganmu bercerita itu hanya segelintir hal yang membuatmu terlihat begitu menarik seperti manekin yang dipajang di etalase kaca toko. Tak sadarkah kamu disaat aku mulai mengikuti semua...

Apa yang Akan dilakukan?

Jika pada suatu waktu, kamu merasa mulai benar-benar menyayangi seseorang, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan berusaha mengenalnya lebih dekat, berharap dapat menciptakan hubungan timbal-balik yang lebih intim dan romantis dengan dirinya? Atau kamu akan mempertahankan posisi kalian dalam lingkaran pertemanan, berharap di kemudian hari ia dapat menyadari bahwa kamulah satu-satunya, seperti buku Teman Tapi Menikah? Ataukah mungkin kamu malah akan pergi sejauh mungkin, memutuskan percaya pada ungkapan-ungkapan cengeng tentang "melihatmu dari jauh sudah membuatku bahagia"? Apa yang akan kamu lakukan? Karena saya benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.

CEPAT

Cinta ini cinta yang cepat Secepat malam yang kulewati tanpa rehat, Demi memohon sinar matamu untuk kembali menyapa hangat Hancur ini hancur yang cepat Secepat langkah kakimu yang menjauh dan enggan melihat Menuai luka, menggores asa, membuat sekarat Kosong ini kosong yang cepat Secepat lambaian tanganmu tanda tak lagi kuat Saat diri ini kerap berusaha agar tetap selamat Aku yang salah karena terlalu cepat Berekspektasi kau pelabuhan yang tepat Untuk tempatku berteduh melepas penat Hingga kututup pintu ini rapat-rapat Tapi, Ternyata kau hanya datang sekelebat Meninggalkan harapan yang besar agar nadi ini tersayat.